TAHAP & PEREKEMBANGAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Postingan ini merupakan bagian dari tugas kelompok Psikologi Pendidikan

Kelompok 6 :

Melisa Windi
Asyifa Rizvi 

TAHAP & PEREKEMBANGAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
          
Perkembangan individu murid, siswa, dan mahasiswa (peserta didik), ditunjukkan bagaimana perkembangan anak-anak, remaja dan dewasa tumbuh dan berkembang secarafisik, psikis dari fase ke fase seperti dalam hal pertumbuhanfisik, kognitif, afektif, sosial, psikomotor, moral. Proses pengajaran dan pembelajaran tidak akan bisa berjalan efektif dan efisien apabila seorang pendidik tidak memahami perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Untuk itu pendidik memerlukan pengetahuan tentang perkembangan individu peserta didik.

1. Perkembangan pada masa kanak-kanak (early childdhood) yaitu usia 2-6 tahun
            Krisis yang terjadi adalah inisiatif vs rasa bersalah (initiative vs guilt). Secara deskriptif, anak-anak menunjukkan kemampuan dan keterampilan motorik dan menjadi lebih tertarik dalam interaksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka belajar mencapai keseimbangan antara hasrat kebebasan dan tanggung jawab, belajar mengontrol impuls-impuls dan fantasi kekanak-kanakan. Jika orang tua memberi harapan,tetapi konsisten dalam disiplin, maka anak akan belajaar menerima kesalahan, dan tidak dihimggapi perasaan-negatif, seperti perasaan malu secara berlebihan. Sebaliknya, jika orang tua kurang memahami anak, maka akan berkembangan perasaan bersalah dan kurang percaya diri yang berujung pada kesalahan indepedensi.

Mempunyai ciri-ciri:
·         Negatif
·         Masa Bermain:
-uncopice
-onlooker behaviour
-solitary depentent play
-parallel day
-associative play
-coorperative play
·         Masa Eksplorasi
·         Masa Meniru
·         Tahap Perkembangan Kognitif (Piaget):
-Periode Pra-operasional
-Menggunakan simbol-simbol, seperti refleksi mental, kata-kata, dan  penampilan fisik    
  terhadap lingkungannya (objek dan peristiwa-peristiwa).
-Kemampuan berbahasa lebih meningkat.
-Transisi dari tahap intuitif ke tahap operasi konkret ditandai oleh pencapaian satu atau
  lebih konservasi(konservasi berarti bahwa aspek-aspek kuantitatif dari objek tidak 
  berubah kecuali kalau sesuatu ditambahkan atau dikurangkan daripadanya, meskipun
  terjadi perubahan-perubahan dalam penampilannya.
-Berpikir dipandu oleh aturan-aturan logika lebih mmepercayai operasi-operasi.
-Cara berpikir bersifat egosentris
-Penalaran didominasi oleh Persepsi
-Pemecahan masalah lebih intuitif daripada logis.
·         Tingkat Perkembangan Moral (Kohlberg): Prakonvensional
      -Tahap 1:  Orientasi Hukuman
      -Tahap 2: Orientasi Ganjaran

2. Masa Kanak-kanak Akhir (elementary and middle school years) yaitu usia 6-12 tahun

            Krisi yang terjadi adalah kompetensi vs. Rendah diri (competence vs inferiority). Secara deskriptif, sekolah atau belajar adalah peristiwa penting. Anak belajar membuat keputusan, memperoleh keterampilan-keterampilan untuk bidang-bidang pendidikan dan pekerjaan tertentu, serta pengembangan potensi dasar.  Anak-anak , menunjukkan suatu era trasnsisi antara keluarga dengan teman sebaya. Jika anak-anak memperoleh ransangan intelektual yang memaadai, maka mereka menjadi lebih produktif, dan sukses dalam mengembangkan potensinya. Sebaliknya, jika tidak memperoleh kepuasaan, maka mereka akan menunjukkan sikap rendah diri.

Mempunyai ciri-ciri:

·         Periode Operasional Konkret
·         Pengaruh teman sebaya mulai dominan
·         Tahap Perkembangan Kognitif (Piaget):
      - Mampu berpikir logis tentang objek dan kejadian
-Operasional Konkret
-Berpikir secara konkret
      - Mampu mengklasifikasi jumlah dan berat
-Mampu mengatur secara serial
-Memahami konsep bilangan.
-Berkembangan azas dalam berpikir
-Mampu berkonservasi
-Logika penggolongan dan relasi
·         Tingkat Perkembangan Moral Konvensional
      Tahap 3: Orientasi ”good boys/girls”
      Tahap 4: Orientasi Otoritas tokoh yang disegani
  
3. Masa Remaja (Adolescense) yaitu usia 12-18 tahun

            Krisis yang terjadi ialah identitas vs kebingunan peran (identity vs role confusion). Secara deskriptif, remaja  berfokus pada pertanyaan ”siapa saya”. Untuk sukses menjawab pertanyaan ini, Erickson menyatakan remaja mesti bebas dari rasa konflik dalam berbagai hal, adanya peluang untuk mengembangkan kepercayaan diri, independensi, kompetensi, dan kontrol diri. Jika remaja bebas atau sukses dalam mengatasi konflik yang mungkin terjadi, maka mereka akan sukses dalam tahap ini dan memperoleh identitas diri yang kukuh, dan siap membuat perencanaaan untuk masa depannya. Sebaliknya, jika gagal mengatasi konflik dan  identitas diri, maka remaja akan tenggelam dalam kebingunan, tidak mampu membuat pilihan dan keputusan, khususnya tentang pekerjaan, orientasi seksual, dan peran  kehidupan secara keseluruhan.

Mempunyai ciri-ciri:
·         Perkembangan Fisik: Mengarah ke bentuk badan orang dewasa
·         Perkembangan Seksual: Mulai aktifnya hormon seksual
·         Perkembangan Heteroseksual:  Mulai tertarik dengan lawan jenis
·         Perkembangan Emosional: Emosional tak stabil, berubah-ubah dan cenderung meledak-
      ledak.
·         Perkembangan Kognitif:
      -Generalisasi pemikiran yang lengkap
      -Berpikir proposional
      -Kemampuan memecahkan masalah abstrak dan hipotesis
      -Berkembangannya idealisme yang kuat
      -Berpikir kombinasional
      -Berpikir secara sistematis
      -Mampu berpikir abstrak
      -Mampu memecahkan masalah belajar yang bersifat abstrak secara sistematis dan
        generalis
      -Dapat menerapkan pernyataan-pernyataan verbal dan logis
·         Pola berpikir cenderung egosentris
·         Perkembangan Moral : Kebanyakan tingkat konvensional
      Tahap 5: Orientasi tingkat sosial
      Tahap 6: Orientasi asas etis
     


           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Korea yang Bertema Psikologi

Psikologi Pendidikan: PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI